Jakarta, Kominfo – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan momen yang paling berat selama lima tahun menjabat. Momen itu disebutnya, ketika harus membatasi layanan data selama beberapa hari saat pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 pada April lalu.

“Karena di satu pihak saya menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, freedom of media. Tapi di satu pihak juga ada kepentingan yang lebih besar yaitu national security,” kata Rudiantara di Jakarta, Kamis (17/10/2019) malam.

Meskipun dihadapkan dengan keputusan yang menuai pro kontra di kalangan masyarakat, Rudiantara bersyukur banyak pihak memberikan apresiasi atas keputusan tersebut. “Berat memutuskannya, tapi alhamdulillah apresiasinya banyak, bahkan dari luar negeri,” ungkapnya.

Rudiantara menjelaskan, paska keputusan pembatasan layanan data, dirinya diundang langsung oleh Menteri Luar Negeri Inggris untuk berbagi pengalaman dalam mengeluarkan kebijakan tersebut.

“Saya diundang oleh Menteri Luar Negeri Inggris untuk menyampaikan apa yang terjadi pada saat bulan Mei, karena dianggapnya Indonesia bisa menyeimbangkan antara freedom of expression dengan nasional security,” jelas Rudiantara.

Menteri Kominfo menjelaskan ketika itu banyak peserta konferensi mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia. “Jadi, saya di London itu presentasi mengenai itu. Berat, tapi yaa jerih payahnya diapresiasi oleh internasional,” tambahnya

Rudiantara akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Menteri Kominfo dalam beberapa hari kedepan. Di akhir masa jabatannya, Rudiantara sukses menyelesaikan beberapa program prioritas. Salah satunya adalah Palapa Ring yang menyatukan Indonesia melalui jaringan serat optik internet berkecepatan tinggi.