Atasi Interferensi Frekuensi SARSAT-7, Balmon Banjarmasin Bantu BCC Basarnas

3 Oktober 2020


Banjarmasin, Kominfo – Kementerian Komunikasi dan Informatika berhasil menangani gangguan frekuensi kerja Satelit Sarsat-7 di wilayah Banjarmasin.

Tim Monitoring Frekuensi Radio Balai Monitoring Kelas II Banjarmasin Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo menemukenali sumber gangguan frekuensi saluran televisi kabel.

“Indikasi kuat berasal dari kebocoran frekuensi radio pada saluran televisi kabel sebagai akibat tidak bagusnya isolasi pada sambungan split kabel di wilayah sekitar Jalan Gatot Subroto Kota Banjarmasin,” jelas Kepala Balmon Kelas II Banjarmasin, Mujiyo di Banjarmasin, Jumat (02/10/2020).

Kabalmon Klas II Banjarmasin menjelaskan, penanganan gangguan sebagai tindak lanjut dari adanya permohonan pengecekan sinyal distress dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin melalui surat No. B/270/KOM.02/IX/SAR.BJM-2020.

“Basarnas Banjarmasin menerima informasi dari Basarnas Command Centre (BCC) perihal sinyal distress yang muncul pada koordinat 03 19.6 S 114 37.1 E yang memancar di sekitar wilayah Sungai Lulut, Kota Banjarmasin,” jelas Mujiyo.

Menurut Mujiyo, BCC melakukan pengecekan di lokasi yang memancarkan sinyal distress tersebut, namun hasilnya nihil.

“Sinyal masih terus memancar, sehingga memohon bantuan kepada pihak Balmon Klas II Banjarmasin untuk mendeteksi dan menemukan sumber pancaran sinyal tersebut,” ungkapnya.

Menanggapi permohonan tersebut, Kabalmon Klas II Banjarmasin memerintahkan tim monitoring yang dipimpin Ahli Madya FPFR Hendy Herdiana melakukan pelacacakan dan penyisiran pancaran sinyal distress.

“Tim melakukan pelacakan ke Sungai Lulut kemudian Jalan Gatot Subroto. Di lokasi kedua inilah tim monitoring dengan menggunakan perangkatnya menemukenali sumber pancaran sinyal yang ternyata muncul dari saluran televisi kabel,” jelasnya.

Pelacakan dan penyisiran pancaran sinyal distress pada koordinat 03 19.6 S 114 37.1 E yang memancar di sekitar wilayah Sungai Lulut dilakukan tim bentukan Balmon Klas II . Kemudian dilanjutkan ke wilayah sekitar Jalan Gatot Subroto Kota Banjarmasin.

“Setelah diperiksa lebih detail dan dimonitor ada kebocoran frekuensi radio pada saluran kabel televisi tersebut, dikarenakan tidak bagusnya isolasi pada split saluran kabel milik penyelenggara televisi kabel berlangganan di sekitar Jalan Gatot Subroto Kota Banjarmasin,” tutur Kabalmon Kelas II Banjarmasin.

Menurut Mujiyo, pancaran sinyal akibat split saluran itu bekerja pada range frekuensi 315 MHz s.d 415 MHz. Sehingga hal ini memicu gangguan pada operasional Satelit Sarsat-7 yang bekerja pada frekuensi 406,00 MHz s.d 406,100 MHz.

“Tim Monitoring juga telah meminta pemilik saluran televisi kabel memperbaiki sambungan split saluran kabel. Setelah dilakukan perbaikan sinyal distress sudah tidak memancar lagi,” jelasnya.

Menurut Kabalmon Kelas II Banjarmasin, tim monitoring juga telah meninta penyelenggara televisi kabel berlangganan agar selalu memeriksa saluran kabel secara teratur terutama pada bagian-bagian yang berpotensi menimbulkan kebocoran.

“Seperti pada sambungan split kabel, booster dan lain-lain. Penggunaan perangkat televisi wajib bersertifikasi dan memenuhi persyaratan teknis yang diwajibkan. Setiap emisi yang dapat menimbulkan interferensi merugikan terhadap penggunaan pita frekuensi radio dinas lainya dilarang,” paparnya.

Banjarmasin, Kominfo – Kementerian Komunikasi dan Informatika berhasil menangani gangguan frekuensi kerja Satelit Sarsat-7 di wilayah Banjarmasin.

Tim Monitoring Frekuensi Radio Balai Monitoring Kelas II Banjarmasin Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo menemukenali sumber gangguan frekuensi saluran televisi kabel.

“Indikasi kuat berasal dari kebocoran frekuensi radio pada saluran televisi kabel sebagai akibat tidak bagusnya isolasi pada sambungan split kabel di wilayah sekitar Jalan Gatot Subroto Kota Banjarmasin,” jelas Kepala Balmon Kelas II Banjarmasin, Mujiyo di Banjarmasin, Jumat (02/10/2020).

Kabalmon Klas II Banjarmasin menjelaskan, penanganan gangguan sebagai tindak lanjut dari adanya permohonan pengecekan sinyal distress dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin melalui surat No. B/270/KOM.02/IX/SAR.BJM-2020.

“Basarnas Banjarmasin menerima informasi dari Basarnas Command Centre (BCC) perihal sinyal distress yang muncul pada koordinat 03 19.6 S 114 37.1 E yang memancar di sekitar wilayah Sungai Lulut, Kota Banjarmasin,” jelas Mujiyo.

Menurut Mujiyo, BCC melakukan pengecekan di lokasi yang memancarkan sinyal distress tersebut, namun hasilnya nihil.

“Sinyal masih terus memancar, sehingga memohon bantuan kepada pihak Balmon Klas II Banjarmasin untuk mendeteksi dan menemukan sumber pancaran sinyal tersebut,” ungkapnya.

Menanggapi permohonan tersebut, Kabalmon Klas II Banjarmasin memerintahkan tim monitoring yang dipimpin Ahli Madya FPFR Hendy Herdiana melakukan pelacacakan dan penyisiran pancaran sinyal distress.

“Tim melakukan pelacakan ke Sungai Lulut kemudian Jalan Gatot Subroto. Di lokasi kedua inilah tim monitoring dengan menggunakan perangkatnya menemukenali sumber pancaran sinyal yang ternyata muncul dari saluran televisi kabel,” jelasnya.

Pelacakan dan penyisiran pancaran sinyal distress pada koordinat 03 19.6 S 114 37.1 E yang memancar di sekitar wilayah Sungai Lulut dilakukan tim bentukan Balmon Klas II . Kemudian dilanjutkan ke wilayah sekitar Jalan Gatot Subroto Kota Banjarmasin.

“Setelah diperiksa lebih detail dan dimonitor ada kebocoran frekuensi radio pada saluran kabel televisi tersebut, dikarenakan tidak bagusnya isolasi pada split saluran kabel milik penyelenggara televisi kabel berlangganan di sekitar Jalan Gatot Subroto Kota Banjarmasin,” tutur Kabalmon Kelas II Banjarmasin.

Menurut Mujiyo, pancaran sinyal akibat split saluran itu bekerja pada range frekuensi 315 MHz s.d 415 MHz. Sehingga hal ini memicu gangguan pada operasional Satelit Sarsat-7 yang bekerja pada frekuensi 406,00 MHz s.d 406,100 MHz.

“Tim Monitoring juga telah meminta pemilik saluran televisi kabel memperbaiki sambungan split saluran kabel. Setelah dilakukan perbaikan sinyal distress sudah tidak memancar lagi,” jelasnya.

Menurut Kabalmon Kelas II Banjarmasin, tim monitoring juga telah meninta penyelenggara televisi kabel berlangganan agar selalu memeriksa saluran kabel secara teratur terutama pada bagian-bagian yang berpotensi menimbulkan kebocoran.

“Seperti pada sambungan split kabel, booster dan lain-lain. Penggunaan perangkat televisi wajib bersertifikasi dan memenuhi persyaratan teknis yang diwajibkan. Setiap emisi yang dapat menimbulkan interferensi merugikan terhadap penggunaan pita frekuensi radio dinas lainya dilarang,” paparnya.