Setelah Palapa Ring, Lalu Apa Rencana Pemerintah?

15 October 2019


Jakarta, Kominfo- Proyek Palapa Ring telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Senin (14/10/2019) lalu di Istana Negara. Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya mengenai apa yang akan dilakukan pemerintah setelah Palapa Ring selesai dibangun. Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Anang Latif menyampaikan bahwa ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.

“Sebenarnya Presiden sudah menyampaikan saat Peresmian Palapa Ring kemarin bahwa pemerintah akan tuntaskan pembangunan 4.000 BTS lagi pada tahun 2020, yang akan berdampak langsung ke masyarakat. Selain itu yang sudah berjalan satelit multifungsi,bulan Mei lalu sudah tanda tangan kontrak, dan sekarang sudah berprogress,” jelas Anang dalam Forum Merdeka Barat 9 “Menghitung Dampak Palapa Ring”, di Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Ditambahkan Anang bahwa setelah Palapa Ring selesai dibangun, kita juga masih harus menyelesaikan persoalan TIK lainnya. “Pemerintah hadir tidak hanya sampai Kabupaten/Kota saja, tapi harus terhubung dengan jaringan fiber optic. Kita lihat bagaimana operator membangun konektivitas di kecamatan dan desa yang menguntungkan secara bisnis. Namun kalau operator tidak sanggup, maka kita yang akan bangun, ini yang dinamakan Palapa Ring Extension,” ujarnya.

Palapa Ring digambarkan Anang sebagai jalan tol yang berhenti sampai kabupaten dan kota. Sehingga masih ada persoalan konektivitas untuk kecamatan dan desa yang perlu dicarikan solusi lain. “Palapa Ring selesaikan masalah infrastruktur, namun kita juga perlu selesaikan pembangunan 4.000 BTS dan pemerataan sinyal sampai ke pelosok. Yang terpenting lagi adalah bagaimana pembangunan infrastruktur ini berdampak positif bagi masyarakat. Kita akan bangun ekosistem, namun pemerintah tidak bisa jalan sendiri, karena perlu gerakan semua lini agar pemanfaatan broadband bisa menyentuh semua,” ungkap Anang.

Proyek Palapa Ring merupakan bagian dari Infrastruktur ‘Tol Langit’ yang menghubungkan 514 kota/kabupaten di Indonesia dengan jaringan serat optik. Palapa Ring hadir sebagai wujud dari kebijakan afirmatif pemerintah untuk menyediakan internet cepat dan mengurangi kesenjangan digital khususnya di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) yang secara komersial tidak feasible untuk dibangun oleh penyelenggara telekomunikasi.

Kehadiran Palapa Ring merupakan salah satu bentuk implementasi Nawacita ke-3, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, dalam bentuk upaya pemerataan layanan telekomunikasi di seluruh Indonesia. (VE)

Jakarta, Kominfo- Proyek Palapa Ring telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Senin (14/10/2019) lalu di Istana Negara. Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya mengenai apa yang akan dilakukan pemerintah setelah Palapa Ring selesai dibangun. Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Anang Latif menyampaikan bahwa ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.

“Sebenarnya Presiden sudah menyampaikan saat Peresmian Palapa Ring kemarin bahwa pemerintah akan tuntaskan pembangunan 4.000 BTS lagi pada tahun 2020, yang akan berdampak langsung ke masyarakat. Selain itu yang sudah berjalan satelit multifungsi,bulan Mei lalu sudah tanda tangan kontrak, dan sekarang sudah berprogress,” jelas Anang dalam Forum Merdeka Barat 9 “Menghitung Dampak Palapa Ring”, di Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Ditambahkan Anang bahwa setelah Palapa Ring selesai dibangun, kita juga masih harus menyelesaikan persoalan TIK lainnya. “Pemerintah hadir tidak hanya sampai Kabupaten/Kota saja, tapi harus terhubung dengan jaringan fiber optic. Kita lihat bagaimana operator membangun konektivitas di kecamatan dan desa yang menguntungkan secara bisnis. Namun kalau operator tidak sanggup, maka kita yang akan bangun, ini yang dinamakan Palapa Ring Extension,” ujarnya.

Palapa Ring digambarkan Anang sebagai jalan tol yang berhenti sampai kabupaten dan kota. Sehingga masih ada persoalan konektivitas untuk kecamatan dan desa yang perlu dicarikan solusi lain. “Palapa Ring selesaikan masalah infrastruktur, namun kita juga perlu selesaikan pembangunan 4.000 BTS dan pemerataan sinyal sampai ke pelosok. Yang terpenting lagi adalah bagaimana pembangunan infrastruktur ini berdampak positif bagi masyarakat. Kita akan bangun ekosistem, namun pemerintah tidak bisa jalan sendiri, karena perlu gerakan semua lini agar pemanfaatan broadband bisa menyentuh semua,” ungkap Anang.

Proyek Palapa Ring merupakan bagian dari Infrastruktur ‘Tol Langit’ yang menghubungkan 514 kota/kabupaten di Indonesia dengan jaringan serat optik. Palapa Ring hadir sebagai wujud dari kebijakan afirmatif pemerintah untuk menyediakan internet cepat dan mengurangi kesenjangan digital khususnya di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) yang secara komersial tidak feasible untuk dibangun oleh penyelenggara telekomunikasi.

Kehadiran Palapa Ring merupakan salah satu bentuk implementasi Nawacita ke-3, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, dalam bentuk upaya pemerataan layanan telekomunikasi di seluruh Indonesia. (VE)