Kolaborasi Layanan Digital, Buka Peluang Unicorn Bidang Kesehatan

10 October 2019


Jakarta, Kominfo – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan kehadiran teknologi memberj peluang besar untuk mempercepat serta memperluas akses dan layanan kesehatan bagi masyarakat. Bahkan, Menteri Rudiantara menyatakan ada peluang unicorn selanjutnya dari bidang layanan teknologi kesehatan.

“Kehadiran teknologi memberi peluang besar untuk mempercepat serta memperluas akses dan layanan bagi masyarakat. Halodoc fokus untuk memudahkan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia dan kerjasama dengan BPJS Kesehatan ini diharapkan masyarakat dapat menggunakan fasilitas kesehatan dengan lebih inklusif, efisien dan efektif,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Konferensi Pers Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BPJS Kesehatan dengan Halodoc di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Menteri Rudiantara mengharapan kemitraan itu mendorong kedua belah pihak menggabungkan keahliannya guna memperluas akses dan layanan kesehatan digital bagi masyarakat, terutama peserta BPJS Kesehatan.

“Pemerintah dan pelaku bisnis harus bahu-membahu berbuat sesuatu agar peluang ini tidak berlalu sia-sia. Kita harus menciptakan ekosistem digital di sektor kesehatan yang kondusif dan inklusif bagi berbagai lapisan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia,” ujar Menteri Rudiantara.

Menteri Kominfo menegaskan dukungan pemerintah dalam kemitraan itu. “Pemerintah sangat mendukung sinergi antara Halodoc bersama dengan BPJS Kesehatan,” tegasnya.

Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Wahyuddin Bagenda mengatakan pemanfaatan teknologi dalam layanan BPJS Kesehatan telah menjadi fokus sejak beberapa tahun terakhir.

“Guna mengoptimalkan kualitas layanan kami. Saat ini sudah tersedia aplikasi Mobile JKN yang merupakan transformasi digital dari layanan administrasi kepesertaan,” jelas .

Lebih lanjut, kemitraan ini diharapkan akan menjadi langkah awal dari pengembangan teknologi di sektor kesehatan Indonesia untuk dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.

“Melalui penggabungan keahlian dari Halodoc di bidang teknologi, kami berharap dapat melengkapi pengalaman pengguna akan fasilitas kesehatan dengan lebih inklusif, efisien, dan efektif,” ujar Wahyuddin.

Pada tahap awal, peserta JKN-KIS akan mendapatkan akses dan layanan kesehatan digital Halodoc, seperti konten promosi kesehatan, yang terintegrasi dengan aplikasi Mobile JKN BPJS Kesehatan. Kemitraan ini juga diharapkan turut mampu mengentaskan disparitas antara jumlah penduduk dengan fasilitas dan layanan kesehatan di Indonesia.

Peluang Unicorn Startup Kesehatan

Saat ini, Halodoc mampu memperluas akses dan layanan kesehatan berkualitas setara bagi masyarakat. Tercatat, lebih dari 50 persen pengguna Halodoc merupakan penduduk luar pulau Jawa, dan 74 persen di antaranya tinggal di luar Jakarta dan Surabaya–dua kota terbesar di Indonesia.

CEO Halodoc, Jonathan Sudharta, menuturkan komitmen Halodoc untuk memudahkan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia melalui teknologi. “Kerja sama dengan BPJS Kesehatan ini membuka kesempatan bagi kami guna memperluas akses dan layanan kesehatan yang tak hanya terpusat di kota-kota besar melainkan menjangkau masyarakat di daerah terpencil, terlebih BPJS Kesehatan memiliki basis pengguna terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kominfo juga menyatakan ada peluang startup kesehatan dan pendidikan berpeluang menjadi unicorn selanjutnya. “Mudah-mudahan unicorn dari health technology ada. Kalau kita ramai-ramai pakai BPJS, jadilah dia (Halodoc) unicorn selanjutnya,” ucapnya.

Saat ini, Halodoc memiliki 7 juta pengguna. Adapun pendanaan Halodoc telah mencapai series B+ dengan valuasi USD 100 juta. Dalam laporan Google, Temasek, dan Bain bertajuk e-Conomy SEA 2019, ada lebih dari 70 startup yang valuasinya mendekati unicorn (aspiring unicorn) di Asia Tenggara. Mereka sudah memperoleh USD 1,1 miliar sepanjang Semester I 2019. Sejak 2016 hingga Semester I 2019, startup ini memperoleh USD 5,9 miliar.

Jakarta, Kominfo – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan kehadiran teknologi memberj peluang besar untuk mempercepat serta memperluas akses dan layanan kesehatan bagi masyarakat. Bahkan, Menteri Rudiantara menyatakan ada peluang unicorn selanjutnya dari bidang layanan teknologi kesehatan.

“Kehadiran teknologi memberi peluang besar untuk mempercepat serta memperluas akses dan layanan bagi masyarakat. Halodoc fokus untuk memudahkan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia dan kerjasama dengan BPJS Kesehatan ini diharapkan masyarakat dapat menggunakan fasilitas kesehatan dengan lebih inklusif, efisien dan efektif,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Konferensi Pers Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BPJS Kesehatan dengan Halodoc di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Menteri Rudiantara mengharapan kemitraan itu mendorong kedua belah pihak menggabungkan keahliannya guna memperluas akses dan layanan kesehatan digital bagi masyarakat, terutama peserta BPJS Kesehatan.

“Pemerintah dan pelaku bisnis harus bahu-membahu berbuat sesuatu agar peluang ini tidak berlalu sia-sia. Kita harus menciptakan ekosistem digital di sektor kesehatan yang kondusif dan inklusif bagi berbagai lapisan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia,” ujar Menteri Rudiantara.

Menteri Kominfo menegaskan dukungan pemerintah dalam kemitraan itu. “Pemerintah sangat mendukung sinergi antara Halodoc bersama dengan BPJS Kesehatan,” tegasnya.

Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Wahyuddin Bagenda mengatakan pemanfaatan teknologi dalam layanan BPJS Kesehatan telah menjadi fokus sejak beberapa tahun terakhir.

“Guna mengoptimalkan kualitas layanan kami. Saat ini sudah tersedia aplikasi Mobile JKN yang merupakan transformasi digital dari layanan administrasi kepesertaan,” jelas .

Lebih lanjut, kemitraan ini diharapkan akan menjadi langkah awal dari pengembangan teknologi di sektor kesehatan Indonesia untuk dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.

“Melalui penggabungan keahlian dari Halodoc di bidang teknologi, kami berharap dapat melengkapi pengalaman pengguna akan fasilitas kesehatan dengan lebih inklusif, efisien, dan efektif,” ujar Wahyuddin.

Pada tahap awal, peserta JKN-KIS akan mendapatkan akses dan layanan kesehatan digital Halodoc, seperti konten promosi kesehatan, yang terintegrasi dengan aplikasi Mobile JKN BPJS Kesehatan. Kemitraan ini juga diharapkan turut mampu mengentaskan disparitas antara jumlah penduduk dengan fasilitas dan layanan kesehatan di Indonesia.

Peluang Unicorn Startup Kesehatan

Saat ini, Halodoc mampu memperluas akses dan layanan kesehatan berkualitas setara bagi masyarakat. Tercatat, lebih dari 50 persen pengguna Halodoc merupakan penduduk luar pulau Jawa, dan 74 persen di antaranya tinggal di luar Jakarta dan Surabaya–dua kota terbesar di Indonesia.

CEO Halodoc, Jonathan Sudharta, menuturkan komitmen Halodoc untuk memudahkan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia melalui teknologi. “Kerja sama dengan BPJS Kesehatan ini membuka kesempatan bagi kami guna memperluas akses dan layanan kesehatan yang tak hanya terpusat di kota-kota besar melainkan menjangkau masyarakat di daerah terpencil, terlebih BPJS Kesehatan memiliki basis pengguna terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kominfo juga menyatakan ada peluang startup kesehatan dan pendidikan berpeluang menjadi unicorn selanjutnya. “Mudah-mudahan unicorn dari health technology ada. Kalau kita ramai-ramai pakai BPJS, jadilah dia (Halodoc) unicorn selanjutnya,” ucapnya.

Saat ini, Halodoc memiliki 7 juta pengguna. Adapun pendanaan Halodoc telah mencapai series B+ dengan valuasi USD 100 juta. Dalam laporan Google, Temasek, dan Bain bertajuk e-Conomy SEA 2019, ada lebih dari 70 startup yang valuasinya mendekati unicorn (aspiring unicorn) di Asia Tenggara. Mereka sudah memperoleh USD 1,1 miliar sepanjang Semester I 2019. Sejak 2016 hingga Semester I 2019, startup ini memperoleh USD 5,9 miliar.