Cegah Penyalahgunaan Narkoba, Kominfo Bentuk Relawan Antinarkoba

24 September 2019


Bogor, Kominfo – Pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika terus diupayakan. Kali ini Biro Kepegawaian dan Organisasi Sekretariat Jenderal Kementerian Kominfo membentuk Relawan Antinarkoba. Pembentukan itu berlangsung dalam acara Asistensi Relawan Anti Narkoba di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Selasa (24/09/2019).

Menurut Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi Cecep Ahmed Faisal, relawan antinarkoba akan menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. “Acara ini sangat penting karena baru pertama kali dilakukan. Relawan Anti Narkoba ini sebagai garda terdepan dalam rangka pencegahan, pemberantasan, dan penyebaran informasi terhadap bahaya narkoba,” ungkapnya di hadapan perwakilan dari setiap satuan kerja di lingkungan Kementerian Kominfo.

Cecep Ahmed Faisal merasa miris dengan dampak narkoba yang tidak hanya merusak raga tetapi juga bisa merusak tatanan negara Indonesia. “Narkoba itu tidak mengenal usia dan profesi. Dampaknya sudah merambah ke seluruh pihak,” tandasnya.

Menurut Cecep, sebagai langkah awal pencegahan penyalahgunaan narkoba, Kementerian Kominfo sudah melakukan tes urin ke seluruh jajaran eselon 1 hingga 4. “Apabila penggunaan narkoba untuk pengobatan, maka dapat dibuktikan dengan surat dokter,” tuturnya.

Kepala Seksi Instansi Pemerintah, Direktorat Advokasi Badan Narkotika Nasional, R. Dea Rhinofa Fathurochman memaparkan mengenai jenis narkoba terus bertambah. “Dari sebelumnya 14 jenis baru di tahun 2013 menjadi 76 narkoba di tahun 2018. Keadaan ini menuntut BNN untuk melakukan upaya strategis di mana salah satunya adalah Relawan Anti Narkoba,” tuturnya.

Menurut Fathurochman, Relawan Antinarkoba adalah seseorang yang bersedia mengabdi secara ikhlas, tanpa pamrih, dan tanpa diberikan imbalan. “Juga memiliki kemampuan dan kepedulian sebagai penggerak penyebarluasan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.

Dalam acara itu, hadir mantan pengguna narkoba dari Yayasan Ronny Pattinasarany. Yerry yang merupakan anak atlet sepakbola nasional Ronny Pattinasarany menceritakan kehidupannya dari pecandu narkoba selama 9 tahun hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.

“Saya dulu selalu berusaha untuk berhenti, akan tetapi akhirnya balik lagi. Bahkan saya pernah mencoba untuk bunuh diri. Puncaknya ketika ayah saya berhenti bermain bola demi saya dan kakak saya berhenti narkoba. Di sana saya sadar bahwa cinta kasih keluarga lebih saya butuhkan daripada narkoba yang saya gunakan selama ini. Cinta kasih keluarga merupakan musuh besar sindikat narkoba,” ujar Yerry yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Ronny Pattinasarany.

Yerry sangat mengapresiasi relawan dari institusi karena menurutnya hal tersebut masih jarang ditemukan. “Teman-teman rehabilitas pasti sangat senang dengan adanya relawan ini dikarenakan mereka tidak merasa sendiri. Tidak mudah untuk menjadi relawan, karena biasanya menjadi relawan karena sudah pernah berada pada situasi tersebut,” tutup Yerry.

Bogor, Kominfo – Pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika terus diupayakan. Kali ini Biro Kepegawaian dan Organisasi Sekretariat Jenderal Kementerian Kominfo membentuk Relawan Antinarkoba. Pembentukan itu berlangsung dalam acara Asistensi Relawan Anti Narkoba di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Selasa (24/09/2019).

Menurut Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi Cecep Ahmed Faisal, relawan antinarkoba akan menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. “Acara ini sangat penting karena baru pertama kali dilakukan. Relawan Anti Narkoba ini sebagai garda terdepan dalam rangka pencegahan, pemberantasan, dan penyebaran informasi terhadap bahaya narkoba,” ungkapnya di hadapan perwakilan dari setiap satuan kerja di lingkungan Kementerian Kominfo.

Cecep Ahmed Faisal merasa miris dengan dampak narkoba yang tidak hanya merusak raga tetapi juga bisa merusak tatanan negara Indonesia. “Narkoba itu tidak mengenal usia dan profesi. Dampaknya sudah merambah ke seluruh pihak,” tandasnya.

Menurut Cecep, sebagai langkah awal pencegahan penyalahgunaan narkoba, Kementerian Kominfo sudah melakukan tes urin ke seluruh jajaran eselon 1 hingga 4. “Apabila penggunaan narkoba untuk pengobatan, maka dapat dibuktikan dengan surat dokter,” tuturnya.

Kepala Seksi Instansi Pemerintah, Direktorat Advokasi Badan Narkotika Nasional, R. Dea Rhinofa Fathurochman memaparkan mengenai jenis narkoba terus bertambah. “Dari sebelumnya 14 jenis baru di tahun 2013 menjadi 76 narkoba di tahun 2018. Keadaan ini menuntut BNN untuk melakukan upaya strategis di mana salah satunya adalah Relawan Anti Narkoba,” tuturnya.

Menurut Fathurochman, Relawan Antinarkoba adalah seseorang yang bersedia mengabdi secara ikhlas, tanpa pamrih, dan tanpa diberikan imbalan. “Juga memiliki kemampuan dan kepedulian sebagai penggerak penyebarluasan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.

Dalam acara itu, hadir mantan pengguna narkoba dari Yayasan Ronny Pattinasarany. Yerry yang merupakan anak atlet sepakbola nasional Ronny Pattinasarany menceritakan kehidupannya dari pecandu narkoba selama 9 tahun hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.

“Saya dulu selalu berusaha untuk berhenti, akan tetapi akhirnya balik lagi. Bahkan saya pernah mencoba untuk bunuh diri. Puncaknya ketika ayah saya berhenti bermain bola demi saya dan kakak saya berhenti narkoba. Di sana saya sadar bahwa cinta kasih keluarga lebih saya butuhkan daripada narkoba yang saya gunakan selama ini. Cinta kasih keluarga merupakan musuh besar sindikat narkoba,” ujar Yerry yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Ronny Pattinasarany.

Yerry sangat mengapresiasi relawan dari institusi karena menurutnya hal tersebut masih jarang ditemukan. “Teman-teman rehabilitas pasti sangat senang dengan adanya relawan ini dikarenakan mereka tidak merasa sendiri. Tidak mudah untuk menjadi relawan, karena biasanya menjadi relawan karena sudah pernah berada pada situasi tersebut,” tutup Yerry.